Wakil Ketua PKN Buton Tegaskan Syaraswati Samiun Siap Bertarung di Pilkada Buton 2024: Perempuan Juga Layak Jadi Pemimpin

MONITORSULTRA, BUTON – Wakil Ketua Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra), La Ode Ali, S.Pd tegaskan Syaraswati Samiun siap bertarung sebagai calon bupati pada Pilkada Buton 27 November 2024 mendatang.

“Saya selaku Wakil Ketua PKN Kabupaten Buton menegaskan bahwa Ketua PKN Kabupaten Buton, Syaraswati Samiun siap bertarung sebagai calon Bupati Buton pada Pilkada 27 November 2024 mendatang,” katanya kepada media ini, Sabtu (20/4/2024).

Hal itu ditegaskan La Ode Ali, untuk menjawab isu-isu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat mengenai keseriusan Syaraswati Samiun maju dalam Pilkada.

“Saya katakan ini sekaligus menjawab isu-isu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat mengenai keseriusan Syaraswati Samiun maju dalam Pilkada Buton,” ujarnya.

Menurutnya, Syaraswati Samiun layak untuk ikut bertarung dalam pesta demokrasi yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali itu. Apalagi Syaraswati Samiun selama 36 tahun sudah mengabdikan dirinya di Kabupaten Buton sebagai abdi negara sejak 1984 lalu.

“Kenapa saya katakan layak, karena perlu diketahui bahwa Syaraswati Samiun bukanlah orang baru di Kabupaten Buton, beliau sudah bekerja dan mengabdikan diri sebagai abdi negara selama 36 tahun sejak tahun 1984 lalu, artinya Syaraswati Samiun tentu sudah paham betul mengenai situasi yang ada di Kabupaten Buton,” ungkapnya.

“Dan mengenai adanya isu-isu harus putra daerah. Nah, ini sebenanrnya yang jadi pertanyaan, putra daerah seperti apa yang dimaksud, jangan-jangan hanya nanti saat mau calon baru bilang putra daerah, tapi selama ini tinggalnya di luar daerah, dan nanti mau calon baru datang di Buton. Sementara Syaraswati Samiun ini sudah bekerja di Kabupaten selama 36 tahun. Jadi sebenarnya siapa yang sudah punya kontribusi untuk daerah ini?,” sambungnya.

BACA JUGA :  Buntut Putusan KPU Soal DCT, Demokrat Ajukan Sengketa di Bawaslu Buton

Mengenai isu-isu yang mempertanyakan mengapa pemimpin harus dari kaum perempuan? La Ode Ali malahan kembali bertanya, salahnya dimana jika pemimpin itu perempuan? Bukankah laki-laki dan perempuan memiliki hak sama untuk berbuat yang terbaik terhadap daerah, bangsa dan negara ini. Apalagi, didalam konstitusi menjamin bahwa setiap warga negara berhak dipilih dan memilih.

“Jadi memang isu-isu mengenai penolakan terhadap perempuan untuk jadi pemimpin itu banyak berkembang khususnya di media sosial, tapi itu sah-sah saja, itu hak mereka,” katanya.

“Padahal kalo kita melihat tidak sedikit para pemimpin kita di Indonesia ini berasal dari kaum perempuan, mulai dari tingkat paling bawah seperti kepala desa/lurah, camat, bupati/walikota, gubernur bahkan Presiden kita juga dulu dari perempuan yaitu Ibu Megawati. Dan Raja Pertama di Kesultanan Buton juga kan perempuan Raja Wakaka, lalu salahnya dimana jika perempuan yang memimpin?,” sambung La Ode Ali.

Justru tambah La Ode Ali, tampilnya Syaraswati Samiun, merupakan spirit baru bagi kaum perempuan khusunya di Kabupaten Buton, bahwa perempuan juga tidak semata-mata hanya menjadi ibu rumah tangga. Tetapi, juga punya hak untuk bersaing disegala sektor termasuk maju sebagai calon bupati.

“Justru tampilnya Syaraswati Samiun merupakan spirit baru bagi seluruh kaum perempuan, bahwa perempuan tidak semata-mata hanya menjadi ibu rumah tangga. Tapi, juga memiliki hak yang sama untuk bersaing di segala sektor termasuk maju sebagai calon pemimpin di daerah yang kita cintai ini,” pungkasnya.

Penulis: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.